MEMBACANYA IMAM KHAFAS MENGENAI IMALAH DAN ISYMAM
Di buat untuk memenuhi tugas Individu Mata Pelajaran BTQ
MAKALAH

Disusun oleh :
AHMAD NADHIF
MADRASAH ALIYAH BINA CENDEKIA CIREBON
Jln. KH. Wahid Hasyim Mertapadawetan Kec. Astanajapura Kab. Cirebon
Terakreditasi “A”
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kekuatan dan kemampuan dalam proses pembelajaran, dan penulisan makalah yang
berjudul “Membacanya Imam khafs mengenai Imalah dan Isymam ”, yang
merupakan suatu kajian yang disusun untuk melengkapi tugas Individu dalam mata
pelajaran Baca Tulis Quran ( BTQ).
Makalah yang penulis susun ini bertujuan
untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai Membacanya Imam khafs mengenai Imalah dan Isymam. Dalam menyusunnya makalah ini masih memiliki
banyak kekurangan ,sehingga dalam penyusunan
makalah ini penulis mengharapkan saran, masukkan bahkan kritik yang membangun
untuk makalah ini, sehingga bisa digunakan sebagai referensi dalam mata
pelajaran ini.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini sehingga dapat selesai seperti yang
diharapkan.
Cirebon, 26 Maret 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
................................................................................
KATA PENGANTAR ..............................................................................
DAFTAR ISI
............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang .................................................................................
B. Rumusan masalah
............................................................................
C. Tujuan .............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Imalah
....................................................................
B. Isymam
.......................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
.....................................................................................
B. Saran
...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW melalui Malaikat Jibril secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah.
Al-Qur’an berisi ilmu pengetahuan, hokum-hukum, kisah-kisah, falsafah, akhlak,
peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku dan tat acara hidup manusia baik
sebagai makhluk individual maupun sosial, serta menjadi petunjuk bagi penghuni
langit dan bumi. Mengingat begitu pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan manusia,
maka belajar membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan
Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah kewajiban bagi seorang
muslim. Firman Allah dalam QS. Al MUzzammil (73):4, “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan
tartil”. Membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sebagaimana Al-Qur’an
diturunkan adalah kewajiban setiap muslim.
Akan tetapi kenyataannya masih banyak anak-anak, orang dewasa,
bahkan orang tua yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan benar. Beberapa faktor
penyebabnya antara lain metode kurang tepat, media pembelajaran yang kurang
mendukung atau pribadi itu sendiri yang kurang menyadari pentingnya belajar
Al-Qur’an. Perkembangan ilmu pengetahuan mempunyai dampak positif terhadap
berbagai bidang kehidupan, bagaimana membaca Al-Qur’an yang baik dan benar,
tidak cukup hanya dengan mempelajari ilmu tajwid yang contoh bacaannya sudah
banyak ditemukan dimasyarakat, tetapi juga harus mengerti bacaan penting
lainnya dalam Al-Qur’an yaitu ghorib dan musykilat. Dalam materi
ghorib dan musykilat dijelaskan tentang bacaan-bacaan Al-Qur’an yang tidak
sesuai dengan tulisannya dan bacaan-bacaan yang harusti-hati ketika membacanya.
Banyak lafal dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang aneh bacaannya. Maksudnya aneh
adalah ada beberapa bacaan tulisan didalam Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan
kaidah aturan membaca yang umum atau yang biasa berlaku dalam kaidah bacaan
bahasa arab.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perlu adanya sebuah
pembelajaran yang menarik untuk mempermudah mempelajari bacaan-bacaan ghorib
dan musykilat dalam Al-Qur’an serta mengetahui bagaimana cara membacanya dengan
baik dan benar.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah
pengertian dari Imalah dan Isymam?
2. Bagaimana
cara pengajaran Imalah dan Isymam?
C. Tujuan
1. Dapat
mengetahui makna Imalah dan Isymam.
2. Dapat
mengetahui cara pembacaan Al-Qur’an menurut Imam Hafas.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Imalah
Imalah menurut
bahasa berasal dari wazan lafadz ﺃَﻣَﺎﻝَ
yaitu ﺃَﻣَﺎﻝَ – ﻳَﻤِﻴْﻞُ – ﺇِﻣَﺎﻟَﺔً
yang artinya memiringkan atau membengkokan, sedangkan menurut istilah yaitu
memiringkan fathah kepada kasrah atau memiringkan alif kepada ya’. Bacaan
imalah banyak dijumpai pada qira’ah Imam Hamzah dan Al-Kisa’i, diantaranya pada
lafadz-lafadz yang diakhiri oleh alif layyinah, contoh: ﺍﻟﻀُّﺤٰﻰ ﻗَﻠٰﻰ، ﺳَﺠٰﻰ، ﻫُﺪَﻯ , . Sedangkan pada riwayat Imam Hafs hanya
ada satu lafadz yang harus dibaca imalah yaitu pada lafadz ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ dalam QS. Hud: 41 :
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﺭْﻛَﺒُﻮﺍْ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺠْﺮﻯٰﻬَﺎ ﻭَﻣُﺮْﺳٰﻬَﺎٓ ۚ
ﺇِﻥَّ ﺭَﺑِّﻰ ﻟَﻐَﻔُﻮﺭٌ ﺭَّﺣِﻴﻢٌ
Dalam ilmu
qira’ah, ada satu bacaan yang hampir mirip dengan bacaan imalah, yaitu bacaan
taqlil yang termasuk dalam qira’ah imam Warsy. Khususnya pada lafadz yang
berwazan ﻓَﻌﻠﻰ، ﻓِﻌﻠﻰ، ﻓُﻌﻠﻰ , namun bacaan taqlil
lebih mendekati fathah seperti halnya bunyi suara “re” pada kata “mereka”.
Sebab-sebab
di-Imalahkannya lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ
” diantaranya adalah untuk membedakan antara lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ
” yang artinya berjalan di darat dengan lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ
” yang artinya berjalan di laut. Dalam salah satu kamus bahasa arab dijelaskan
bahwa lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” berasal dari lafadz
“ ﺟَﺮٰﻯ ” yang artinya berjalan atau mengalir dan lafadz
tersebut dapat dipakai dalam arti berjalan di atas daratan maupun berjalan di
atas lautan (air), namun kecenderungan perjalanan di permukaan laut (air) tidak
stabil seperti halnya di daratan. Terkadang diterjang ombak kecil dan besar
atau terhempas angin, sehingga sangat tepat apabila lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” tersebut di- Imalahkan.
2. Isymam
Isymam artinya mencampurkan dammah pada sukun dengan memoncongkan
bibir atau mengangkat dua bibir. Dalam qira’ah riwayat Hafs, Isymam terdapat
pada lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” yaitu pada waktu
membaca lafadz tersebut, gerakan lidah seperti halnya mengucapkan lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ” sehingga hampir tidak ada perubahan
bunyi antara mengucapkan lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ
” dengan mengucapkan “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ
”. Dengan kata lain, asal dari lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ
” adalah lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ”. Kalau diteliti
lebih dalam, ternyata rasm utsmani hanya menulis satu nun yang bertasydid. Ada
pertanyaan muncul, dimana letak dammahnya?sehingga untuk mempertemukan kedua
lafadz tersebut dipilihlah jalan tengah yaitu bunyi bacaan mengikuti rasm,
sedangkan gerakan bibir mengikuti lafadz asal.
Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs, hanya dikenal satu
idgham saja, yaitu idgham shaghir yakni mengidghamkan dua huruf yang sama yang
salah satunya mati. Menurut bahasa, bahwa lafadz “ ﻟَﺎ
ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” dapat difahami berasal dari lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ” yang terdapat dua nun yang
diidharkan, nun yang pertama di rafa’kan dan yang kedua dinashabkan. Nun
yang pertama dirafa’kan karena termasuk fi’il mudlari yang tidak kemasukan
“amil nawashib” maupun jawazhim.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a. Imalah adalah pembacaan fathah
yang miring kekasroh. Contoh pada surat Hud (11) ﻣﺠﺮﻫﺎ Bunyi
RO dibaca RE (seperti bunyi REmot) sehingga menjadi majREha.
b. Isymam adalah menampakkan dhommah
yang terbuang dengan isyarat bibir ketika membaca kata ‘LAATA’MANNA’ pada surat
Yusuf (12) ayat 11.
cara bacanya “laa ta’manna” Nah,
karena ini termasuk bacaan isymam, cara membacanya yaitu “laa ta’mannuna”,
namun kata “nuu” yang menjadi tambahan hanya diisyaratkan dengan gerakan bibir
ditambah mencucu tanpa suara. Jadi suara yang kedengaran hanya sebatas “laa
ta’manna”.
B. Kritik
dan Saran
Dengan telah
dipaparkannya materi Imalah dan Isymam. Diharapkan dapat menjadi acuan dalam
pembelajaran serta bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis. Oleh sebab
itu, pemakalah mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para
pembaca untuk penulisan makalah yang lebih baik di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
M Khan. 2008. Praktikum
Qira’at, cet. 1.Jakarta: Amzah.
Misbachul Munir. 2005. Ilmu dan
Seni Qiro’atil Qur’an. Semarang: Binawan.
Dewan Qiro’ati.
1996. Rangkuman Bacaan Ghorib dan Musykilat. Magelang:ponpes.
http//ghorib dan musykilat.html. Di akses pada tanggal 17 Desember 2017 pukul 14.00 WIB.
http//ghorib dan musykilat.html. Di akses pada tanggal 17 Desember 2017 pukul 14.00 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar