Kamis, 26 Maret 2020

Makalah BTQ tentang Isymam dan imalah


MEMBACANYA IMAM KHAFAS MENGENAI IMALAH DAN ISYMAM
Di buat untuk memenuhi tugas Individu Mata Pelajaran BTQ

MAKALAH



Disusun oleh :
AHMAD NADHIF



MADRASAH ALIYAH BINA CENDEKIA CIREBON
Jln. KH. Wahid Hasyim Mertapadawetan Kec. Astanajapura Kab. Cirebon
Terakreditasi “A”


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan dalam proses pembelajaran, dan penulisan makalah yang berjudul “Membacanya Imam khafs mengenai Imalah dan Isymam ”, yang merupakan suatu kajian yang disusun untuk melengkapi tugas Individu dalam mata pelajaran Baca Tulis Quran ( BTQ).

Makalah yang penulis susun ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai Membacanya Imam khafs mengenai Imalah dan Isymam. Dalam menyusunnya makalah ini masih memiliki banyak kekurangan ,sehingga dalam penyusunan makalah ini penulis mengharapkan saran, masukkan bahkan kritik yang membangun untuk makalah ini, sehingga bisa digunakan sebagai referensi dalam mata pelajaran ini.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu  dalam pembuatan makalah ini sehingga dapat selesai seperti yang diharapkan.



                                                                                   Cirebon, 26 Maret 2020




       Penyusun



DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL ................................................................................
KATA PENGANTAR ..............................................................................       
DAFTAR  ISI ............................................................................................       
BAB I PENDAHULUAN
              A.    Latar belakang .................................................................................       
              B.     Rumusan masalah ............................................................................       
              C.     Tujuan .............................................................................................       
BAB II PEMBAHASAN
              A.    Imalah ....................................................................       
              B.     Isymam .......................................................................................      
BAB III PENUTUP
             A.    Kesimpulan .....................................................................................       
             B.     Saran ...............................................................................................       
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Al-Qur’an berisi ilmu pengetahuan, hokum-hukum, kisah-kisah, falsafah, akhlak, peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku dan tat acara hidup manusia baik sebagai makhluk individual maupun sosial, serta menjadi petunjuk bagi penghuni langit dan bumi. Mengingat begitu pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan manusia, maka belajar membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Firman Allah dalam QS. Al MUzzammil (73):4, “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil”. Membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sebagaimana Al-Qur’an diturunkan adalah kewajiban setiap muslim.
Akan tetapi kenyataannya masih banyak anak-anak, orang dewasa, bahkan orang tua yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan benar. Beberapa faktor penyebabnya antara lain metode kurang tepat, media pembelajaran yang kurang mendukung atau pribadi itu sendiri yang kurang menyadari pentingnya belajar Al-Qur’an. Perkembangan ilmu pengetahuan mempunyai dampak positif terhadap berbagai bidang kehidupan, bagaimana membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, tidak cukup hanya dengan mempelajari ilmu tajwid yang contoh bacaannya sudah banyak ditemukan dimasyarakat, tetapi juga harus mengerti bacaan penting lainnya dalam Al-Qur’an  yaitu ghorib dan musykilat. Dalam materi ghorib dan musykilat dijelaskan tentang bacaan-bacaan Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan tulisannya dan bacaan-bacaan yang harusti-hati ketika membacanya. Banyak lafal dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang aneh bacaannya. Maksudnya aneh adalah ada beberapa bacaan tulisan didalam Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan kaidah aturan membaca yang umum atau yang biasa berlaku dalam kaidah bacaan bahasa arab.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perlu adanya sebuah pembelajaran yang menarik untuk mempermudah mempelajari bacaan-bacaan ghorib dan musykilat dalam Al-Qur’an serta mengetahui bagaimana cara membacanya dengan baik dan benar.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari Imalah dan Isymam?
2.      Bagaimana cara pengajaran Imalah dan Isymam?
C.    Tujuan
1.      Dapat mengetahui makna Imalah dan Isymam.
2.      Dapat mengetahui cara pembacaan Al-Qur’an menurut Imam Hafas.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Imalah
Imalah menurut bahasa berasal dari wazan lafadz ﺃَﻣَﺎﻝَ yaitu ﺃَﻣَﺎﻝَ – ﻳَﻤِﻴْﻞُ – ﺇِﻣَﺎﻟَﺔً yang artinya memiringkan atau membengkokan, sedangkan menurut istilah yaitu memiringkan fathah kepada kasrah atau memiringkan alif kepada ya’. Bacaan imalah banyak dijumpai pada qira’ah Imam Hamzah dan Al-Kisa’i, diantaranya pada lafadz-lafadz yang diakhiri oleh alif layyinah, contoh: ﺍﻟﻀُّﺤٰﻰ ﻗَﻠٰﻰ، ﺳَﺠٰﻰ، ﻫُﺪَﻯ , . Sedangkan pada riwayat Imam Hafs hanya ada satu lafadz yang harus dibaca imalah yaitu pada lafadz ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ dalam QS. Hud: 41 :
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﺭْﻛَﺒُﻮﺍْ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺠْﺮﻯٰﻬَﺎ ﻭَﻣُﺮْﺳٰﻬَﺎٓ ۚ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑِّﻰ ﻟَﻐَﻔُﻮﺭٌ ﺭَّﺣِﻴﻢٌ
Dalam ilmu qira’ah, ada satu bacaan yang hampir mirip dengan bacaan imalah, yaitu bacaan taqlil yang termasuk dalam qira’ah imam Warsy. Khususnya pada lafadz yang berwazan ﻓَﻌﻠﻰ، ﻓِﻌﻠﻰ، ﻓُﻌﻠﻰ , namun bacaan taqlil lebih mendekati fathah seperti halnya bunyi suara “re” pada kata “mereka”.
Sebab-sebab di-Imalahkannya lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” diantaranya adalah untuk membedakan antara lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” yang artinya berjalan di darat dengan lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” yang artinya berjalan di laut. Dalam salah satu kamus bahasa arab dijelaskan bahwa lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” berasal dari lafadz “ ﺟَﺮٰﻯ ” yang artinya berjalan atau mengalir dan lafadz tersebut dapat dipakai dalam arti berjalan di atas daratan maupun berjalan di atas lautan (air), namun kecenderungan perjalanan di permukaan laut (air) tidak stabil seperti halnya di daratan. Terkadang diterjang ombak kecil dan besar atau terhempas angin, sehingga sangat tepat apabila lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” tersebut di- Imalahkan.

2. Isymam
Isymam artinya mencampurkan dammah pada sukun dengan memoncongkan bibir atau mengangkat dua bibir. Dalam qira’ah riwayat Hafs, Isymam terdapat pada lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” yaitu pada waktu membaca lafadz tersebut, gerakan lidah seperti halnya mengucapkan lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ” sehingga hampir tidak ada perubahan bunyi antara mengucapkan lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” dengan mengucapkan “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ”. Dengan kata lain, asal dari lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” adalah lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ”. Kalau diteliti lebih dalam, ternyata rasm utsmani hanya menulis satu nun yang bertasydid. Ada pertanyaan muncul, dimana letak dammahnya?sehingga untuk mempertemukan kedua lafadz tersebut dipilihlah jalan tengah yaitu bunyi bacaan mengikuti rasm, sedangkan gerakan bibir mengikuti lafadz asal.
Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs, hanya dikenal satu idgham saja, yaitu idgham shaghir yakni mengidghamkan dua huruf yang sama yang salah satunya mati. Menurut bahasa, bahwa lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” dapat difahami berasal dari lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ” yang terdapat dua nun yang diidharkan, nun yang pertama di rafa’kan dan yang kedua dinashabkan. Nun yang pertama dirafa’kan karena termasuk fi’il mudlari yang tidak kemasukan “amil nawashib” maupun jawazhim.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
a. Imalah adalah pembacaan fathah yang miring kekasroh. Contoh pada surat Hud (11) ﻣﺠﺮﻫﺎ Bunyi RO dibaca RE (seperti bunyi REmot) sehingga menjadi majREha.
b. Isymam adalah menampakkan dhommah yang terbuang dengan isyarat bibir ketika membaca kata ‘LAATA’MANNA’ pada surat Yusuf (12) ayat 11.
cara bacanya “laa ta’manna” Nah, karena ini termasuk bacaan isymam, cara membacanya yaitu “laa ta’mannuna”, namun kata “nuu” yang menjadi tambahan hanya diisyaratkan dengan gerakan bibir ditambah mencucu tanpa suara. Jadi suara yang kedengaran hanya sebatas “laa ta’manna”.

B.     Kritik dan Saran
Dengan telah dipaparkannya materi Imalah dan Isymam. Diharapkan dapat menjadi acuan dalam pembelajaran serta bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis. Oleh sebab itu, pemakalah mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca untuk penulisan makalah yang lebih baik di masa yang akan datang.















DAFTAR PUSTAKA

M Khan. 2008.  Praktikum Qira’at, cet. 1.Jakarta: Amzah.

Misbachul Munir. 2005. Ilmu dan Seni Qiro’atil Qur’an. Semarang: Binawan.

Dewan Qiro’ati. 1996. Rangkuman Bacaan Ghorib dan Musykilat. Magelang:ponpes.
http//ghorib dan musykilat.html. Di akses pada tanggal 17 Desember 2017 pukul 14.00 WIB.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI

KESEHATAN REPRODUKSI Dibuat untuk memenuhi tugas individu mata pelajaran Penjasorkes MAKALAH                    ...